BRO UPDATE, Masih suasana Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya ingin mengenalkan tokoh besar dengan karya besar. Legasi atau amal jariahnya menggunung. Saat menuliskan kisah beliau ini, saya merinding karena saking hebatnya. Beliau adalah KH As'ad Humam, pencipta metode belajar membaca Alquran, Iqro'. Mari kita eksplorasi kiprah sang kiyai sambil seruput kopi dengan sedikit sentuhan gula aren.

Di antara riuhnya bangsa yang lebih sibuk menghitung kursi politik ketimbang huruf hijaiyah, lahirlah seorang bayi di Yogyakarta tahun 1933. Bayi itu tumbuh menjadi lelaki bernama KH. As’ad Humam. Tidak ada yang menyangka, dari sosok sederhana inilah lahir sebuah revolusi pendidikan Alquran. Bukan revolusi dengan senjata, tapi dengan huruf-huruf hijaiyah yang ditata rapi menjadi enam jilid buku mungil bernama Iqro’.

As’ad tumbuh di lingkungan pesantren Krapyak, Yogyakarta. Hidupnya berkisar antara mushola, masjid, dan anak-anak yang mengaji dengan suara belepotan. Ia melihat metode lama Baghdadiyah terasa lambat, anak harus mengeja, “alif fathah a, ba fathah ba.” Butuh bertahun-tahun hanya untuk bisa membaca satu mushaf. Ia resah, lalu mengajak pemuda masjid Al-Munawwir membentuk Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid (AMM). Inilah laboratorium pendidikan yang lebih mirip startup tanpa investor, modalnya semangat dan doa.

Tahun 1988, setelah eksperimen panjang, lahirlah metode Iqro’. Enam jilid, sederhana tapi jenius. Jilid 1 memperkenalkan huruf hijaiyah, jilid 2 belajar penyambungan, jilid 3–4 masuk bacaan panjang dan tanwin, lalu jilid 5–6 mengantar murid pada tajwid dasar. Filosofinya absurd sekaligus elegan, “Lihat huruf → baca. Titik.” Tidak perlu mengeja panjang lebar, tapi membacanya.

Dalam beberapa tahun, Iqro’ meledak. Dari mushola kecil Krapyak, ia menjelma menjadi kurikulum tak resmi seluruh negeri. Anak-anak yang dulu butuh tiga tahun untuk membaca lancar, kini hanya butuh hitungan bulan. Para guru TPQ bersorak, orang tua terharu, dan anak-anak merasa Alquran sahabat dekat.

Yang lebih ironis, nama KH. As’ad Humam tidak pernah tercetak di cover Iqro’. Hanya ada tulisan “Tim Tadarus AMM Yogyakarta.” Di zaman orang berlomba branding diri, beliau justru memilih anonimitas. Bayangkan, wak! Kalau beliau hidup di era media sosial, mungkin sudah ada #HumamTheLegend trending worldwide. Tapi beliau memilih jalan sunyi, agar metode ini jadi milik umat, bukan warisan pribadi.

Jasa besar ini akhirnya mendapat pengakuan. Kementerian Agama RI memberikan penghargaan khusus kepadanya pada 1990-an. Bahkan UNESCO mencatat Iqro’ sebagai salah satu inovasi pendidikan Islam berbasis masyarakat dari Indonesia, sesuatu yang jarang sekali terjadi. Berbagai ormas Islam, NU hingga Muhammadiyah, mengakui karya ini. Uniknya, Iqro’ justru menyatukan, bukan memecah.

Pada 2 Februari 1996, As’ad Humam wafat di Yogyakarta, usia 63 tahun, dan dimakamkan di kompleks pemakaman Krapyak. Tidak ada sirine kenegaraan, tidak ada upacara bendera. Tapi setiap kali seorang anak kecil di pelosok membaca Bismillahirrahmanirrahim dengan lancar, di situlah pahala beliau mengalir tanpa batas.

Warisan KH. As’ad Humam bukan hanya buku enam jilid, tapi juga lahirnya jaringan TPA/TPQ di seluruh negeri. Dari kampung hingga kota, dari surau di Sumatera sampai mushola di Kapuas Hulu, hampir semuanya mengajarkan Alquran dengan Iqro’. Inilah penghargaan sejati yang lebih megah dari Nobel, amal jariyah yang tidak pernah putus.

As’ad Humam mengajarkan pada dunia, orang hebat sejati tidak perlu panggung megah. Cukup satu ide sederhana, dijalankan dengan ikhlas, lalu biarkan sejarah yang bersujud di hadapannya. Subhanallah.

Terus terang, saya punya pengalaman soal Iqro' ini. Saya belajar di Jakarta. Saat balik kampung saya ajarkan ke masjid-masjid. Waktu itu tak ada dijual di pasar. Saya minta bantu kawan di Jakarta mengirimkan Iqro'. Alhamdulillah, dikirim. Sekarang semua masjid sudah gunakan karya sang kiyai. Alfatehah untuk beliau.

Semoga tak ada bilang itu bid'ah.

Rosadi Jamani