BRO UPDATE, Affan Kurniawan telah tiada. Tapi, perjuangan rakyat tidak pernah sirna. Yang menghabisi nyawanya mulai terima karma. Kali ini seorang perwira. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula.
Sejarah negeri ini kaya akan ironi. Dari kursi sidang etik TNCC Polri, kita kembali disuguhi drama murahan dengan aktor utama, Kompol Cosmas Kaju Gae. Ia seorang komisaris polisi yang dulunya memegang tongkat komando. Kini, ia hanya memegang secarik surat bertuliskan “PTDH”. Pemberhentian Tidak Dengan Hormat. Dua puluh huruf yang lebih kejam dari suara tangisan ibu Affan Kurniawan di rumah duka.
Cosmas bukan nama asing di jagat Brimob. Pernah berjibaku di Satuan Gegana, pernah melatih pasukan, pernah memimpin anak buah. Riwayat kariernya tebal, tetapi tidak setebal aspal jalan Pejompongan yang digurat oleh roda rantis Baraccuda. Pada 28 Agustus 2025, sejarah pribadinya berubah. Dari “Komandan Batalyon” menjadi “komandan tragedi”.
Affan Kurniawan, 21 tahun, pengendara ojek online, tidak pernah menandatangani kontrak untuk menjadi tumbal demokrasi. Ia hanya salah berada di jalan yang salah, di waktu yang salah, di negeri yang katanya menjunjung tinggi “hak asasi manusia”. Mobil rantis yang dipimpin Cosmas menabrak, lalu melindasnya. Mobil itu tidak berhenti, seperti tak mengenal kata hati, bahkan ketika batu dan kayu beterbangan dari tangan rakyat yang marah.
Tujuh nama tercatat dalam catatan hitam, yakni Cosmas Kaju Gae, Bripka Rohmat, Briptu Danang, Bripda Mardin, Bharada Jana Edi, Bharaka Yohanes David, dan Aipda M. Rohyani. Mereka bukan sekadar angka di buku Propam, melainkan simbol betapa murahnya nyawa rakyat di jalanan republik ini.
Sidang etik akhirnya memutuskan, PTDH. Cosmas kehilangan seragam, pangkat, dan, katanya, kehormatan. Tapi, wahai rakyat, mari kita berfilosofi sejenak, apa arti penyesalan seorang Cosmas jika Affan sudah menjadi nama yang hanya hidup di nisan? Apa arti PTDH jika nyawa tak bisa ditebus dengan segelintir keputusan administratif? Penyesalan dalam institusi besar sering kali hanyalah formalitas; seperti bunga plastik di meja tamu, indah dipandang, tapi tak pernah berbau.
Cosmas mungkin duduk di kursi terdakwa etik, menunduk, menyesal, menitikkan air mata yang konon tulus. Tapi penyesalan itu seperti ban rantis yang sudah melindas tubuh Affan, tidak bisa ditarik mundur. Tidak ada tombol “rewind” dalam tragedi. Tidak ada undo dalam buku takdir. Ada, tapi hanya di pidato pejabat yang gemar bilang “kita evaluasi bersama”.
Masyarakat marah, wajar. Tapi negeri ini punya pola, kemarahan rakyat seperti api unggun, menyala sebentar, lalu padam ditelan hujan janji reformasi. Sementara institusi terus melaju, seperti rantis yang tetap jalan meski dilempari batu. Sebagai rakyat kecil, hanya bisa bertanya, di negeri ini, apakah seragam lebih berat dari nyawa?
Kompol Cosmas kini tinggal catatan kaki dalam sejarah Brimob. Profilnya tersusun rapi: nama, jabatan, riwayat tugas. Tetapi profil Affan hanya tersisa di status WhatsApp teman-temannya, di linimasa medsos yang viral, di ingatan ibunya yang tidak pernah lagi melihat anaknya pulang dengan helm ojek di tangan.
Pada akhirnya, penyesalan itu tiada arti. PTDH hanyalah stempel. Sementara di kuburan Affan, rumput liar tumbuh, tanpa pernah tahu bahwa nyawa yang hilang itu sedang diperbincangkan di ruang ber-AC.
Foto Ai, hanya ilustrasi saja.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
0Komentar